Kitab-Kitab Allah (Al-Qur'an dan Shuhuf)

Sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, para rasul datang untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat-Nya. Sebagai manusia biasa, para rasul juga pasti akan menemui ajalnya, yaitu meninggal dunia. Sepeninggal rasul-rasul itu, kehidupan umat manusia mengalami pergeseran dan ada yang mulai meninggalkan ajarannya. Saat itulah kehidupan mulai kacau karena tanpa pedoman sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasul. Dengan diturunkannya kitab suci, umat manusia kembali memiliki pedoman hidup.

 

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad. Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diwahyukan dan merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Isi kitab suci al-Qur’an mencakup seluruh inti wahyu yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya. Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar dan abadi di antara mukjizat-mukjizat lainnya. Oleh karena itu, al-Qur’an idealnya menjadi pedoman sekaligus menjadi dasar hukum bagi kehidupan seluruh umat manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

 

Rasulullah menegaskan bahwa manusia tidak tersesat dalam menjalani hidupnya selama berpegang teguh pada al-Qur’an dan hadis.

 

تركت فيكم أمرين ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا: كتاب الله وسنة رسوله

 

Artinya: “Kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu (al-Qur’an) dan sunnah rasul-Nya.” (H.R. Hakim).

 

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

 

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877).

 

إنَّ البيت ليُتلى  فيه القرآن؛ فيتراءى لأهلِ السماء كما تتراءى النجومُ لأهل الأرض

 

“Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya al-Qur’an, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi”. (HR. Ahmad, Ash-Shahihah No 3112).

 

(Rasulullah menegaskan: janganlah kau jadikan rumahmu itu kuburan, tetapi hiasilah rumahmu dengan bacaan-bacaan al-Qur’an). Seberapa seringkah waktu kamu luangkan untuk membaca, mengkaji dan menelaah isi al-Qur’an?

 

Dalam hadis yang bersumber dari Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah bersabda bahwa kelak pada suatu masa akan terjadi perpecahan dan perselisihan sepeninggal beliau. Hudzaifah berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai hal itu? Beliau menjawab, “Pelajarilah kitab Allah dan amalkan, karena itu solusinya.” Lalu aku mengulang pertanyaan itu 3x, dan Rasul juga menjawab 3x: “Pelajarilah kitab Allah dan amalkanlah, karena itu kunci keselamatan.”

 

A. Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab Allah

 

Iman kepada kitab Allah artinya meyakini sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para Nabi atau Rasul yang berisi wahyu untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa ada 4 kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi-Nya, yaitu; Taurāt diturunkan kepada Nabi Musa, Zabūr kepada Nabi Daud, Injil kepada Nabi Isa, dan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.

 

Firman Allah:

 

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

 

Artinya: “Dan Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan "kitab" (kitab-kitab) yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...” (Q.S. al-Māidah/5: 48).

 

Kitab-kitab yang dimaksud pada ayat di atas adalah kitab yang berisi peraturan, ketentuan, perintah, dan larangan yang dijadikan pedoman bagi umat manusia. Kitab-kitab Allah tersebut diturunkan pada masa yang berlainan. Semua kitab tersebut berisi ajaran pokok yang sama, yaitu ajaran meng-esa-kan Allah (tauhid). Yang berbeda hanyalah dalam hal syariat yang disesuaikan dengan zaman dan keadaan umat pada waktu itu.

 

B. Pengertian Kitab dan Suhuf

 

Kitab dan suhuf merupakan wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul untuk disampaikan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup.

 

Suhuf merupakaan:

1. Wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul, tetapi masih berupa “lembaran-lembaran” yang terpisah.

2. Isi suhuf sangat simpel.

 

Kitab merupakan:

1. Wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul sudah berbentuk buku/kitab.

2. Isi kitab lebsih lengkap jika dibandingkan dengan isi suhuf.

 

Di dalam al-Qur’an disebutkan adanya suhuf yang dimiliki Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Perhatikan firman Allah berikut ini:

 

إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ ، صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ

 

Artinya: “Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa.” (Q.S. al-A’lā/87: 19)

 

C. Kitab-Kitab Allah dan Para Penerimanya

 

1. Kitab Taurāt

 

Kata taurat berasal dari bahasa Ibrani (thora: instruksi). Kitab Taurāt adalah salah satu kitab suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa untuk menjadi petunjuk dan bimbingan baginya dan bagi Bani Israil. Firman Allah:

 

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا

 

Artinya: “Dan Kami berikan kepada Musa, Kitab (Taurāt) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil (pelindung) selain Aku.” (Q.S. al-Isrā’/17: 2).

 

Taurāt merupakan salah satu dari tiga komponen (Thora, Nabin, dan Khetubin) yang terdapat dalam kitab suci agama Yahudi yang disebut Biblia (al-Kitab), yang belakangan oleh orang-orang Kristen disebut Old Testament (Perjanjian Lama).

 

Isi pokok Kitab Taurāt dikenal dengan Sepuluh Hukum (Ten Commandements) atau Sepuluh Firman yang diterima Nabi Musa di atas Bukit Tursina (Gunung Sinai). Sepuluh Hukum tersebut berisi asas-asas keyakinan (akidah) dan asas-asas kebaktian (syari'ah), seperti berikut.

 

1. Hormati dan cintai Allah satu saja,

2. Sebutkan nama Allah dengan hormat,

3. Kuduskan hari Tuhan (hari ke-7 atau hari Sabtu),

4. Hormati ibu bapakmu,

5. Jangan membunuh,

6. Jangan berbuat cabul,

7. Jangan mencuri,

8. Jangan berdusta,

9. Jangan ingin berbuat cabul,

10. Jangan ingin memiliki barang orang lain dengan cara yang tidak halal.

 

2. Kitab Zabūr

 

Kata zabur (bentuk jamaknya zubūr) berasal dari zabara-yazburu-zabr yang berarti menulis. Makna aslinya adalah kitab yang tertulis. Zabūr dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan mazmūr (jamaknya mazāmir), dan dalam bahasa Ibrani disebut mizmar, yaitu nyanyian rohani yang dianggap suci. Sebagian ulama menyebutnya Mazmūr, yaitu salah satu kitab suci yang diturunkan sebelum al-Qur’an (selain Taurāt dan Injil).

 

Dalam bahasa Ibrani, istilah zabur berasal dari kata zimra, yang berarti “lagu atau musik”, zamir (lagu) dan mizmor (mazmur), merupakan pengembangan dari kata zamar, artinya “nyanyi, nyanyian pujian”. Zabūr adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada kaum Bani Israil melalui utusannya yang bernama Nabi Daud. Ayat yang menegaskan keberadaan Kitab Zabūr antara lain:

 

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

 

Artinya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabūr kepada Daud.” (Q.S. an-Nisā'/4: 163).

 

Kitab Zabūr berisi kumpulan ayat-ayat yang suci. Ada 150 surah dalam Kitab Zabūr yang tidak mengandung hukum-hukum, tetapi hanya berisi nasihat-nasihat, hikmah, pujian, dan sanjungan kepada Allah. Secara garis besar, nyanyian rohani yang disenandungkan oleh Nabi Daud dalam Kitab Zabūr terdiri atas lima macam:

1. nyanyian untuk memuji Tuhan (liturgi),

2. nyanyian perorangan sebagai ucapan syukur,

3. ratapan-ratapan jamaah,

4. ratapan dan doa individu, dan

5. nyanyian untuk raja.

 

Nyanyian pujian dalam Kitab Zabūr (Mazmur: 146) antara lain:

1. Besarkanlah olehmu akan Tuhan hai jiwaku, pujilah Tuhan.

2. Maka aku akan memuji Tuhan. seumur hidupku, dan aku akan nyanyi pujian-pujian kepada Tuhanku selama aku ada.

3. Janganlah kamu percaya pada raja-raja atau anak-anak Adam yang tiada mempunyai pertolongan.

4. Maka putuslah nyawanya dan kembalilah ia kepada tanah asalnya dan pada hari itu hilanglah segala daya upayanya.

5. Maka berbahagialah orang yang memperoleh Ya’qub sebagai penolongnya dan yang menaruh harap kepada Tuhan.

6. Yang menjadikan langit, bumi dan laut serta segala isinya, dan yang menaruh setia sampai selamanya.

7. Yang membela orang yang teraniaya dan yang memberi makan orang yang lapar. Bahwa Tuhan membuka rantai orang yang terpenjara.

 

3. Kitab Injil

 

Kitab Injil diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Isa. Kitab Injil memuat keterangan-keterangan yang benar dan nyata, yaitu perintah-perintah Allah agar manusia meng-esa-kan dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Ada pula penjelasan, bahwa di dalam Kitab Injil terdapat keterangan bahwa di akhir zaman akan lahir nabi yang terakhir dan penutup para nabi dan rasul, yaitu bernama Ahmad atau Muhammad. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa sebagai petunjuk dan cahaya penerang bagi manusia. Kitab Injil sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, bahwa Isa untuk mengajarkan tauhid kepada umatnya atau pengikutnya. Tauhid di sini artinya meng-esa-kan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Penjelasan ini tertulis dalam Q.S. al- hadid /57: 27.

 

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

 

Artinya: “Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam; Dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya....” (Q.S. al- hadid/57: 27).

 

4. Kitab al-Qur’an

 

Al-Qur’an diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur. Waktu turun al-Qur’an selama kurang lebih 23 tahun atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari. Terdiri atas 30 juz, 114 surat, 6.236 ayat, 74.437 kalimat, dan 325.345 huruf.

 

Wahyu pertama adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5, diturunkan pada malam 17 Ramadan tahun 610 M. di Gua Hira, ketika Nabi Muhammad sedang berkhalwat.

 

Dengan diterimanya wahyu pertama ini, Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul, yaitu manusia pilihan Allah yang diberi wahyu untuk disampaikan kepada umatnya. Mulai saat itu, Rasulullah diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh umat manusia.

 

Wahyu yang terakhir turun adalah Q.S. al-Māidah ayat 3. Ayat tersebut turun pada tanggal 9 Ḍulhijjah tahun 10 Hijriyah di Padang Arafah, ketika itu beliau sedang menunaikan haji wada’ (haji perpisahan). Beberapa hari sesudah menerima wahyu tersebut, Nabi Muhammad wafat.

 

Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad menghapus sebagian syariat yang tertera dalam kitab-kitab terdahulu dan melengkapinya dengan tuntunan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Al-Qur’an merupakan kitab suci terlengkap dan berlaku bagi semua umat manusia sampai akhir zaman. Oleh karena itu, sebagai muslim, kita tidak perlu meragukannya sama sekali. Firman Allah:

 

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

 

Artinya: “Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah/2: 2).

 

Pahala Istimewa Penghafal al-Qur’an

 

Diriwayatkan bahwa Allah akan memberikan keistimewaan kepada para penghafal al-Qur’an dan orang tuanya. Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat nanti, al-Qur’an akan menemui penghafalnya ketika keluar dari kuburnya. Al-Qur’an akan berwujud seorang yang ramping. Ia akan bertanya pada penghafalnya, “Apakah Anda mengenalku?” Maka, penghafal itu menjawab “Tidak, saya tidak mengenal Anda.”

 

Al-Qur’an berkata, “Saya adalah kawanmu, al-Qur’an yang membuatmu kehausan di tengah hari. Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapatkan keuntungan. Dan Anda pada hari ini mendapatkan keuntungan.” Kemudian, penghafal itu diberi kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta dipasang mahkota di atas kepalanya. Tidak hanya itu, orang tua penghafal itu juga mendapatkan keistimewaan. Mereka diberikan dua pakaian baru yang bagus dan harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia. Kedua orang tua penghafal itu kemudian bertanya, “Kenapa kami diberikan pakaian seperti ini?’ Kemudian, mereka mendapat jawaban dari Allah, “Karena anakmu telah menghafal al-Qur’an.” Kemudian, kepada penghafal al-Qur’an tadi diperintahkan, “Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya!” Maka, ia pun naik sambil membaca bacaan al-Qur’an. (Diambil dari 365 Kisah Teladan Islam satu kisah selama setahun, Ariany Syurfah).

 

5. Nama-Nama Lain al-Qur’an

 

Nama-nama lain dari al-Qur’an, yaitu:

a. Al-Hudā, artinya al-Qur’an sebagai petunjuk seluruh umat manusia.

b. Al-Furqān, artinya al-Qur’an sebagai pembeda antara yang baik dan buruk.

c. Asy-Syifā', artinya al-Qur’an sebagai penawar (obat penenang hati).

d. Az-Dzikr, artinya al-Qur’an sebagai peringatan adanya ancaman dan balasan.

e. Al-Kitāb, artinya al-Qur’an adalah firman Allah yang dibukukan.

 

6. Isi al-Qur’an

 

Adapun isi pokok al-Qur’an adalah seperti berikut.

a. Aqidah atau keimanan.

b. Ibādah, baik 'ibādah mahḍah maupun gairu mahḍah.

c. Akhlaq seorang hamba kepada Khāliq, kepada sesama manusia dan alam sekitarnya.

d. Mu’āmalah, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia.

e. Qiṡṡah, yaitu cerita nabi dan rasul, orang-orang saleh, dan orang-orang yang ingkar.

f. Semangat mengembangkan ilmu pengetahuan.

7. Keistimewaan al-Qur’an

 

Kita sebagai umat Islam wajib mengimani dan mempercayai isi al-Qur’an karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat manusia, terlebih lagi pedoman hidup umat Islam. Apabila kita tidak mengimani dan mengamalkannya, kita termasuk orang-orang yang ingkar (kafir).

 

Cara mengamalkan isi al-Qur’an adalah dengan mempelajari cara membaca (mengaji) baik melalui iqra’, qiraati, atau yang lainnya. Kemudian, mempelajari artinya, menganalisis isinya, dan langsung mengamalkannya.

 

Adapun keistimewaan kitab suci al-Qur’an adalah sebagai berikut.

a. Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.

b. Sebagai informasi kepada setiap umat bahwa nabi dan rasul terdahulu mempunyai syariat (aturan) dan caranya masing-masing dalam menyembah Allah.

c. Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir dan terjamin keasliannya.

d. Al-Qur’an tidak dapat tertandingi oleh ide-ide manusia yang ingin menyimpangkannya.

e. Membaca dan mempelajari isi al-Qur’an merupakan ibadah.

 

Menerapkan Perilaku Mulia

 

Bagi orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah, ia akan melakukan perilaku mulia sebagai berikut.

1. Meyakini bahwa kitab-kitab suci sebelum al-Qur’an datang dari Allah, tetapi akhirnya tidak murni lagi sebab dicampuradukkan dengan ide-ide manusia di zamannya.

2. Al-Qur’an sudah dijaga kemurniannya oleh Allah sampai sekarang. Umat Islam juga sebagai penjaganya. Menjaga kemurnian al-Qur’an adalah tugas kita sebagai muslim. Salah satu cara menjaga al-Qur’an adalah dengan berusaha menghormati, memuliakan, dan menjunjung tinggi kitab suci al- Qur’an.

3. Menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup, dan tidak sekali- kali berpedoman kepada selain al-Qur’an.

4. Berusaha untuk membaca al-Qur’an dalam segala kesempatan di kala suka maupun duka, kemudian belajar memahami arti dan isinya.

5. Berusaha untuk mengamalkan isi al-Qur’an di dalam kehidupan sehari-hari, baik di waktu sempit maupun di waktu lapang.

 

Rangkuman

 

1. Umat Islam wajib mengimani kitab-kitab Allah, baik al-Qur’an maupun kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurāt, Zabūr, dan Injil .

2. Kitab Taurāt diturunkan kepada Nabi Musa berisi tentang sepuluh perintah, yaitu: meng-esa-kan Allah, larangan menyebut nama Allah dengan main-main, memuliakan hari Sabtu, menghormati kedua orang tua, larangan mencuri, larangan membunuh manusia, larangan berbuat syirik, larangan melakukan zina, larangan menjadi saksi palsu, larangan memiliki keinginan atas hak orang lain.

3. Kitab Zabūr diwahyukan Allah kepada Nabi Daud berisi tentang zikir, nasihat dan hikmah, tidak memuat syariat karena diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti syariat Nabi Musa

4. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa memuat perintah agar manusia meng-esa-kan Allah dan tidak menyekutukan-Nya, juga menjelaskan bahwa di akhir zaman akan lahir nabi yang terakhir, yaitu Ahmad atau Muhammad.

5. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an terdiri atas 30 juz, 114 surat dan kurang lebih 6.236 ayat, 74.437 kalimat, dan 325.345 huruf. Turunnya al-Qur’an disebut Nuzulul Qur’an.

6. Di antara keutamaan al-Qur’an adalah tersedia pahala bagi pembacanya.

 



Jawablah soal-soal berikut dengan tepat!

 

1. Kemukakan beberapa pendapat kamu tentang kitab-kitab Allah sebelum al-Qur’an!

2. Mengapa al-Qur’an disebut kitab yang bersifat universal?

3. Bagaimana cara mewujudkan perilaku supaya bisa disebut orang yang beriman kepada al-Qur’an?

4. Mengapa al-Qur’an disebut sebagai kitab penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya?

5. Bagaimana pendapat kamu ketika menyaksikan orang Islam tidak mau membaca dan mengkaji al-Qur’an?