|
Sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad,
para rasul datang untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat-Nya. Sebagai
manusia biasa, para rasul juga pasti akan menemui ajalnya, yaitu meninggal
dunia. Sepeninggal rasul-rasul itu, kehidupan umat manusia mengalami
pergeseran dan ada yang mulai meninggalkan ajarannya. Saat itulah kehidupan
mulai kacau karena tanpa pedoman sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasul.
Dengan diturunkannya kitab suci, umat manusia kembali memiliki pedoman hidup. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam
yang diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur
kepada Nabi Muhammad. Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diwahyukan
dan merupakan penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Isi kitab suci al-Qur’an
mencakup seluruh inti wahyu yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul
sebelumnya. Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar dan abadi
di antara mukjizat-mukjizat lainnya. Oleh karena itu, al-Qur’an idealnya
menjadi pedoman sekaligus menjadi dasar hukum bagi kehidupan seluruh umat
manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. |
|
Rasulullah menegaskan bahwa manusia
tidak tersesat dalam menjalani hidupnya selama berpegang teguh pada al-Qur’an
dan hadis. تركت فيكم
أمرين ما إن
تمسكتم بهما
لن تضلوا
أبدا: كتاب
الله وسنة
رسوله Artinya: “Kutinggalkan untukmu dua
perkara (pusaka), kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada
keduanya, yaitu (al-Qur’an) dan sunnah rasul-Nya.” (H.R. Hakim). لا تجعلوا
بيوتكم
مقابر، إن
الشيطان ينفر
من البيت
الذي تقرأ
فيه سورة
البقرة “Jangan kalian jadikan rumah kalian
seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat
Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877). إنَّ البيت ليُتلى
فيه القرآن؛
فيتراءى لأهلِ
السماء كما
تتراءى
النجومُ
لأهل الأرض “Sesungguhnya rumah yang dibacakan di
dalamnya al-Qur’an, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk
langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi”. (HR.
Ahmad, Ash-Shahihah No 3112). (Rasulullah menegaskan: janganlah kau
jadikan rumahmu itu kuburan, tetapi hiasilah rumahmu dengan bacaan-bacaan
al-Qur’an). Seberapa seringkah waktu kamu luangkan untuk membaca, mengkaji
dan menelaah isi al-Qur’an?
Dalam hadis yang bersumber dari
Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah bersabda bahwa kelak pada suatu masa akan terjadi
perpecahan dan perselisihan sepeninggal beliau. Hudzaifah berkata, Aku
bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan
kepadaku jika aku menjumpai hal itu? Beliau menjawab, “Pelajarilah kitab
Allah dan amalkan, karena itu solusinya.” Lalu aku mengulang pertanyaan itu
3x, dan Rasul juga menjawab 3x: “Pelajarilah kitab
Allah dan amalkanlah, karena itu kunci keselamatan.” |
|
A. Pentingnya Mengimani Kitab-Kitab
Allah Iman kepada kitab Allah artinya
meyakini sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para Nabi atau
Rasul yang berisi wahyu untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Di
dalam al-Qur’an disebutkan bahwa ada 4 kitab Allah yang diturunkan kepada para
nabi-Nya, yaitu; Taurāt diturunkan kepada Nabi Musa, Zabūr kepada
Nabi Daud, Injil kepada Nabi Isa, dan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Firman Allah: وَأَنزَلْنَا
إِلَيْكَ
الْكِتَابَ
بِالْحَقِّ
مُصَدِّقًا
لِّمَا
بَيْنَ
يَدَيْهِ مِنَ
الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا
عَلَيْهِ
فَاحْكُم
بَيْنَهُم
بِمَا
أَنزَلَ
اللَّهُ
وَلَا
تَتَّبِعْ
أَهْوَاءَهُمْ
عَمَّا
جَاءَكَ
مِنَ الْحَقِّ
لِكُلٍّ
جَعَلْنَا
مِنكُمْ
شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
وَلَوْ
شَاءَ
اللَّهُ
لَجَعَلَكُمْ
أُمَّةً
وَاحِدَةً
وَلَٰكِن
لِّيَبْلُوَكُمْ
فِي مَا آتَاكُمْ
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
إِلَى
اللَّهِ
مَرْجِعُكُمْ
جَمِيعًا
فَيُنَبِّئُكُم
بِمَا
كُنتُمْ
فِيهِ
تَخْتَلِفُونَ Artinya: “Dan Kami telah menurunkan
Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang
membenarkan "kitab" (kitab-kitab) yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka
putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah
engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah
datang kepadamu...” (Q.S. al-Māidah/5: 48). Kitab-kitab yang dimaksud pada ayat di
atas adalah kitab yang berisi peraturan, ketentuan, perintah, dan larangan
yang dijadikan pedoman bagi umat manusia. Kitab-kitab Allah tersebut
diturunkan pada masa yang berlainan. Semua kitab tersebut berisi ajaran pokok
yang sama, yaitu ajaran meng-esa-kan Allah (tauhid). Yang berbeda hanyalah
dalam hal syariat yang disesuaikan dengan zaman dan keadaan umat pada waktu
itu. |
|
B. Pengertian Kitab dan Suhuf Kitab dan suhuf merupakan wahyu Allah
yang disampaikan kepada para rasul untuk disampaikan kepada manusia sebagai
petunjuk dan pedoman hidup. Suhuf merupakaan: 1. Wahyu Allah yang disampaikan kepada
para rasul, tetapi masih berupa “lembaran-lembaran” yang terpisah. 2. Isi suhuf sangat simpel. Kitab merupakan: 1. Wahyu Allah yang disampaikan kepada
para rasul sudah berbentuk buku/kitab. 2. Isi kitab lebsih lengkap jika
dibandingkan dengan isi suhuf. Di dalam al-Qur’an disebutkan adanya
suhuf yang dimiliki Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Perhatikan firman Allah
berikut ini: إِنَّ هَٰذَا
لَفِي
الصُّحُفِ
الْأُولَىٰ
، صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَىٰ Artinya: “Sesungguhnya ini terdapat
dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang
diturunkan kepada Ibrahim dan Musa.” (Q.S. al-A’lā/87: 19) |
|
C. Kitab-Kitab Allah dan Para
Penerimanya 1. Kitab Taurāt Kata taurat berasal dari bahasa Ibrani
(thora: instruksi). Kitab Taurāt adalah salah satu kitab suci yang
diwahyukan Allah kepada Nabi Musa untuk menjadi petunjuk dan bimbingan
baginya dan bagi Bani Israil. Firman Allah: وَآتَيْنَا
مُوسَى
الْكِتَابَ
وَجَعَلْنَاهُ
هُدًى
لِّبَنِي
إِسْرَائِيلَ
أَلَّا تَتَّخِذُوا
مِن دُونِي
وَكِيلًا Artinya: “Dan Kami berikan kepada Musa,
Kitab (Taurāt) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan
firman), “Janganlah kamu mengambil (pelindung) selain Aku.” (Q.S.
al-Isrā’/17: 2). Taurāt merupakan salah satu dari
tiga komponen (Thora, Nabin, dan Khetubin) yang terdapat dalam kitab suci
agama Yahudi yang disebut Biblia (al-Kitab), yang belakangan oleh orang-orang
Kristen disebut Old Testament (Perjanjian Lama). Isi pokok Kitab Taurāt dikenal
dengan Sepuluh Hukum (Ten Commandements) atau Sepuluh Firman yang diterima
Nabi Musa di atas Bukit Tursina (Gunung Sinai). Sepuluh Hukum tersebut berisi
asas-asas keyakinan (akidah) dan asas-asas kebaktian (syari'ah), seperti
berikut. 1. Hormati dan cintai Allah satu saja, 2. Sebutkan nama Allah dengan hormat, 3. Kuduskan hari Tuhan (hari ke-7 atau
hari Sabtu), 4. Hormati ibu bapakmu, 5. Jangan membunuh, 6. Jangan berbuat cabul, 7. Jangan mencuri, 8. Jangan berdusta, 9. Jangan ingin berbuat cabul, 10. Jangan ingin memiliki barang orang
lain dengan cara yang tidak halal. 2. Kitab Zabūr Kata zabur (bentuk jamaknya zubūr)
berasal dari zabara-yazburu-zabr yang berarti menulis. Makna aslinya adalah kitab
yang tertulis. Zabūr dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan
mazmūr (jamaknya mazāmir), dan dalam bahasa Ibrani disebut mizmar,
yaitu nyanyian rohani yang dianggap suci. Sebagian ulama menyebutnya
Mazmūr, yaitu salah satu kitab suci yang diturunkan sebelum al-Qur’an
(selain Taurāt dan Injil). Dalam bahasa Ibrani, istilah zabur
berasal dari kata zimra, yang berarti “lagu atau musik”, zamir (lagu) dan
mizmor (mazmur), merupakan pengembangan dari kata zamar, artinya “nyanyi,
nyanyian pujian”. Zabūr adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada
kaum Bani Israil melalui utusannya yang bernama Nabi Daud. Ayat yang
menegaskan keberadaan Kitab Zabūr antara lain: إِنَّا
أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ
كَمَا أَوْحَيْنَا
إِلَىٰ
نُوحٍ
وَالنَّبِيِّينَ
مِن بَعْدِهِ
وَأَوْحَيْنَا
إِلَىٰ
إِبْرَاهِيمَ
وَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ
وَيَعْقُوبَ
وَالْأَسْبَاطِ
وَعِيسَىٰ
وَأَيُّوبَ
وَيُونُسَ
وَهَارُونَ
وَسُلَيْمَانَ
وَآتَيْنَا
دَاوُودَ
زَبُورًا Artinya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan
kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan
nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim,
Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman.
Dan Kami telah memberikan Kitab Zabūr kepada Daud.” (Q.S.
an-Nisā'/4: 163). Kitab Zabūr berisi kumpulan
ayat-ayat yang suci. Ada 150 surah dalam Kitab Zabūr yang tidak
mengandung hukum-hukum, tetapi hanya berisi nasihat-nasihat, hikmah, pujian,
dan sanjungan kepada Allah. Secara garis besar, nyanyian rohani yang
disenandungkan oleh Nabi Daud dalam Kitab Zabūr terdiri atas lima macam: 1. nyanyian untuk memuji Tuhan
(liturgi), 2. nyanyian perorangan sebagai ucapan
syukur, 3. ratapan-ratapan jamaah, 4. ratapan dan doa individu, dan 5. nyanyian
untuk raja. Nyanyian pujian dalam Kitab Zabūr
(Mazmur: 146) antara lain: 1. Besarkanlah olehmu akan Tuhan hai
jiwaku, pujilah Tuhan. 2. Maka aku akan memuji Tuhan. seumur hidupku, dan aku akan nyanyi pujian-pujian kepada
Tuhanku selama aku ada. 3. Janganlah kamu percaya pada
raja-raja atau anak-anak Adam yang tiada mempunyai pertolongan. 4. Maka putuslah nyawanya dan
kembalilah ia kepada tanah asalnya dan pada hari itu hilanglah segala daya
upayanya. 5. Maka berbahagialah orang yang
memperoleh Ya’qub sebagai penolongnya dan yang menaruh harap kepada Tuhan. 6. Yang menjadikan langit, bumi dan
laut serta segala isinya, dan yang menaruh setia sampai selamanya. 7. Yang membela orang yang teraniaya
dan yang memberi makan orang yang lapar. Bahwa Tuhan membuka rantai orang
yang terpenjara. 3. Kitab Injil Kitab Injil diwahyukan oleh Allah
kepada Nabi Isa. Kitab Injil memuat keterangan-keterangan yang benar dan
nyata, yaitu perintah-perintah Allah agar manusia meng-esa-kan dan tidak
menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Ada pula penjelasan, bahwa di dalam
Kitab Injil terdapat keterangan bahwa di akhir zaman akan lahir nabi yang
terakhir dan penutup para nabi dan rasul, yaitu bernama Ahmad atau Muhammad.
Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa sebagai petunjuk dan cahaya penerang
bagi manusia. Kitab Injil sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, bahwa Isa
untuk mengajarkan tauhid kepada umatnya atau pengikutnya. Tauhid di sini
artinya meng-esa-kan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Penjelasan ini
tertulis dalam Q.S. al- hadid /57: 27. ثُمَّ
قَفَّيْنَا
عَلَىٰ
آثَارِهِم
بِرُسُلِنَا
وَقَفَّيْنَا
بِعِيسَى
ابْنِ مَرْيَمَ
وَآتَيْنَاهُ
الْإِنجِيلَ
وَجَعَلْنَا
فِي قُلُوبِ
الَّذِينَ
اتَّبَعُوهُ
رَأْفَةً
وَرَحْمَةً
وَرَهْبَانِيَّةً
ابْتَدَعُوهَا
مَا
كَتَبْنَاهَا
عَلَيْهِمْ
إِلَّا
ابْتِغَاءَ
رِضْوَانِ
اللَّهِ فَمَا
رَعَوْهَا
حَقَّ
رِعَايَتِهَا
فَآتَيْنَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
مِنْهُمْ
أَجْرَهُمْ
وَكَثِيرٌ
مِّنْهُمْ
فَاسِقُونَ Artinya: “Kemudian Kami susulkan
rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra
Maryam; Dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan
kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya....” (Q.S. al-
hadid/57: 27). 4. Kitab al-Qur’an Al-Qur’an diturunkan Allah kepada Nabi
Muhammad melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus,
melainkan secara berangsur-angsur. Waktu turun al-Qur’an selama kurang lebih
23 tahun atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari. Terdiri atas 30 juz, 114
surat, 6.236 ayat, 74.437 kalimat, dan 325.345 huruf. Wahyu pertama adalah surah al-‘Alaq
ayat 1-5, diturunkan pada malam 17 Ramadan tahun 610 M. di Gua Hira, ketika
Nabi Muhammad sedang berkhalwat. Dengan diterimanya wahyu pertama ini,
Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul, yaitu manusia pilihan Allah yang diberi
wahyu untuk disampaikan kepada umatnya. Mulai saat itu, Rasulullah diberi
tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh umat manusia. Wahyu yang terakhir turun adalah Q.S.
al-Māidah ayat 3. Ayat tersebut turun pada tanggal 9 Ḍulhijjah
tahun 10 Hijriyah di Padang Arafah, ketika itu beliau sedang menunaikan haji
wada’ (haji perpisahan). Beberapa hari sesudah menerima wahyu tersebut, Nabi
Muhammad wafat. Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad menghapus sebagian syariat yang tertera dalam kitab-kitab terdahulu
dan melengkapinya dengan tuntunan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Al-Qur’an merupakan kitab suci terlengkap dan berlaku bagi semua umat manusia
sampai akhir zaman. Oleh karena itu, sebagai muslim, kita tidak perlu
meragukannya sama sekali. Firman Allah: ذَٰلِكَ
الْكِتَابُ
لَا رَيْبَ
فِيهِ هُدًى
لِّلْمُتَّقِينَ Artinya: “Kitab (al-Qur’an) ini tidak
ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S.
al-Baqarah/2: 2). |
|
Pahala Istimewa Penghafal al-Qur’an Diriwayatkan bahwa Allah akan
memberikan keistimewaan kepada para penghafal al-Qur’an dan orang tuanya.
Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat nanti, al-Qur’an akan menemui
penghafalnya ketika keluar dari kuburnya. Al-Qur’an akan berwujud seorang
yang ramping. Ia akan bertanya pada penghafalnya, “Apakah Anda mengenalku?”
Maka, penghafal itu menjawab “Tidak, saya tidak mengenal Anda.” Al-Qur’an berkata, “Saya adalah
kawanmu, al-Qur’an yang membuatmu kehausan di tengah hari. Sesungguhnya,
setiap pedagang akan mendapatkan keuntungan. Dan Anda pada hari ini
mendapatkan keuntungan.” Kemudian, penghafal itu diberi kekuasaan di tangan
kanannya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta dipasang mahkota di
atas kepalanya. Tidak hanya itu, orang tua penghafal itu juga mendapatkan
keistimewaan. Mereka diberikan dua pakaian baru yang bagus dan harganya tidak
dapat dibayar oleh penghuni dunia. Kedua orang tua penghafal itu kemudian
bertanya, “Kenapa kami diberikan pakaian seperti ini?’ Kemudian, mereka
mendapat jawaban dari Allah, “Karena anakmu telah menghafal al-Qur’an.”
Kemudian, kepada penghafal al-Qur’an tadi diperintahkan, “Bacalah dan naiklah
ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya!” Maka, ia pun naik sambil
membaca bacaan al-Qur’an. (Diambil dari 365 Kisah Teladan Islam satu kisah
selama setahun, Ariany Syurfah). |
|
5. Nama-Nama Lain al-Qur’an Nama-nama lain dari al-Qur’an, yaitu: a. Al-Hudā, artinya al-Qur’an
sebagai petunjuk seluruh umat manusia. b. Al-Furqān, artinya al-Qur’an
sebagai pembeda antara yang baik dan buruk. c. Asy-Syifā', artinya al-Qur’an
sebagai penawar (obat penenang hati). d. Az-Dzikr, artinya al-Qur’an sebagai
peringatan adanya ancaman dan balasan. e. Al-Kitāb, artinya al-Qur’an
adalah firman Allah yang dibukukan. |
|
6. Isi al-Qur’an Adapun isi pokok al-Qur’an adalah
seperti berikut. a. Aqidah atau keimanan. b. Ibādah, baik 'ibādah mahḍah
maupun gairu mahḍah. c. Akhlaq seorang hamba kepada
Khāliq, kepada sesama manusia dan alam sekitarnya. d. Mu’āmalah, yaitu hubungan
manusia dengan sesama manusia. e. Qiṡṡah, yaitu cerita
nabi dan rasul, orang-orang saleh, dan orang-orang yang ingkar. f. Semangat mengembangkan ilmu
pengetahuan. 7. Keistimewaan al-Qur’an Kita sebagai umat Islam wajib mengimani
dan mempercayai isi al-Qur’an karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat
manusia, terlebih lagi pedoman hidup umat Islam. Apabila kita tidak mengimani
dan mengamalkannya, kita termasuk orang-orang yang ingkar (kafir). Cara mengamalkan isi al-Qur’an adalah
dengan mempelajari cara membaca (mengaji) baik melalui iqra’, qiraati, atau
yang lainnya. Kemudian, mempelajari artinya, menganalisis isinya, dan
langsung mengamalkannya. Adapun keistimewaan kitab suci
al-Qur’an adalah sebagai berikut. a. Sebagai petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan bertakwa. b. Sebagai informasi kepada setiap umat
bahwa nabi dan rasul terdahulu mempunyai syariat (aturan) dan caranya
masing-masing dalam menyembah Allah. c. Al-Qur’an sebagai kitab suci
terakhir dan terjamin keasliannya. d. Al-Qur’an tidak dapat tertandingi
oleh ide-ide manusia yang ingin menyimpangkannya. e. Membaca dan mempelajari isi
al-Qur’an merupakan ibadah. |
|
Menerapkan Perilaku Mulia Bagi orang yang beriman kepada
kitab-kitab Allah, ia akan melakukan perilaku mulia sebagai berikut. 1. Meyakini bahwa kitab-kitab suci
sebelum al-Qur’an datang dari Allah, tetapi akhirnya tidak murni lagi sebab
dicampuradukkan dengan ide-ide manusia di zamannya. 2. Al-Qur’an sudah dijaga kemurniannya
oleh Allah sampai sekarang. Umat Islam juga sebagai penjaganya. Menjaga
kemurnian al-Qur’an adalah tugas kita sebagai muslim. Salah satu cara menjaga
al-Qur’an adalah dengan berusaha menghormati, memuliakan, dan menjunjung
tinggi kitab suci al- Qur’an. 3. Menjadikan al-Qur’an sebagai
petunjuk dan pedoman hidup, dan tidak sekali- kali berpedoman kepada selain
al-Qur’an. 4. Berusaha untuk membaca al-Qur’an
dalam segala kesempatan di kala suka maupun duka, kemudian belajar memahami
arti dan isinya. 5. Berusaha untuk mengamalkan isi
al-Qur’an di dalam kehidupan sehari-hari, baik di waktu sempit maupun di
waktu lapang. |
|
Rangkuman 1. Umat Islam wajib mengimani
kitab-kitab Allah, baik al-Qur’an maupun kitab-kitab sebelumnya, yaitu
Taurāt, Zabūr, dan Injil . 2. Kitab Taurāt diturunkan kepada
Nabi Musa berisi tentang sepuluh perintah, yaitu: meng-esa-kan Allah,
larangan menyebut nama Allah dengan main-main, memuliakan hari Sabtu,
menghormati kedua orang tua, larangan mencuri, larangan membunuh manusia,
larangan berbuat syirik, larangan melakukan zina, larangan menjadi saksi
palsu, larangan memiliki keinginan atas hak orang lain. 3. Kitab Zabūr diwahyukan Allah kepada
Nabi Daud berisi tentang zikir, nasihat dan hikmah, tidak memuat syariat
karena diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti syariat Nabi Musa 4. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi
Isa memuat perintah agar manusia meng-esa-kan Allah dan tidak menyekutukan-Nya,
juga menjelaskan bahwa di akhir zaman akan lahir nabi yang terakhir, yaitu
Ahmad atau Muhammad. 5. Al-Qur’an adalah kitab suci yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad, sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Al-Qur’an terdiri atas 30 juz, 114 surat dan kurang lebih 6.236 ayat, 74.437
kalimat, dan 325.345 huruf. Turunnya al-Qur’an disebut Nuzulul Qur’an. 6. Di antara keutamaan al-Qur’an adalah
tersedia pahala bagi pembacanya. |
|
Jawablah soal-soal berikut
dengan tepat! 1. Kemukakan beberapa pendapat kamu tentang kitab-kitab Allah sebelum al-Qur’an! 2. Mengapa al-Qur’an disebut kitab yang bersifat universal? 3. Bagaimana cara mewujudkan perilaku supaya bisa disebut
orang yang beriman kepada al-Qur’an? 4. Mengapa al-Qur’an disebut sebagai kitab penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya? 5. Bagaimana pendapat kamu ketika menyaksikan
orang Islam tidak mau membaca dan
mengkaji al-Qur’an? |