|
Peningkatan Iman Kepada Allah Melalui Dzikir al-Asma’ al-Husna:
al-Karim, al-Mu'min, al-Wakil, al-Matin, al-Jami', al-‘Adl, al-Akhir Dengan menghayati ma'na al-Asma'
al-Husna ini dengan benar-benar penghayatan sampai masuk ke dalam hati dan
pikiran kita, diharapkan semoga kita menjadi pribadi yang dermawan, jujur,
amanah, bertawakkal, tangguh, toleran, adil dan bertakwa. Beragam cara ditempuh oleh manusia
untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Cara tersebut ada yang
melalui jalan merenung atau bertafakkur dan ada juga yang melalui berzikir.
Ada pula seseorang menjadi dekat dengan Allah karena suatu ujian dari-Nya
baik berupa masalah atau lainnya. Bahkan disebutkan bahwa jalan dekat dengan
Allah ada sebanyak nafas manusia yang kesemuanya dapat berbuah kebahagian
yang haqiqi. Dzikir artinya mengingat Allah dengan
memuji dan menyebut nama-Nya. Salah satu hal yang sangat fundamental yang
diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikr adalah kemampuan
dalam menguasai nafsu, yang kemudian bila menyebut nama Allah (al-Asma’
al-Husna) berulang-ulang di dalam hati akan menghadirkan rasa rendah hati
(tawadhu') yang disertai dengan rasa takut karena merasakan
keagungan-Nya. Selain itu dzikir juga dapat dilakukan kapan saja dan di mana
saja. Mari kita memahami makna al-Asma'
al-Husna: al-Karim, al-Mu'min, al-Wakil, al-Matin, al-Jami', al-‘Adl, dan
al-Akhir. 1. Pengertian al-Asma' al-Husna Al-Asma' al-Husna terdiri atas dua
kata, yaitu "Asma" yang berarti nama-nama, dan "Husna"
yang berarti baik atau indah. Tetapi di dalam agama Islam, al-Asma' al-Husna
diartikan khusus sebagai nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki
oleh Allah sebagai salah satu cara bagi setiap orang yang mencintai-Nya agar
bisa mengagungkan-Nya. Kata al-Asma' al-Husna diambil dari ayat al-Qur'an
Q.S. Taha/20:8 yang artinya, “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia memiliki
al-Asma' al-Husna (nama-nama baik).“ 2. Dalil tentang al-Asma' al-Husna, di
antaranya adalah Firman Allah di dalam Q.S. al-A'raf/7:180, yaitu: وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَىٰ
فَادْعُوهُ
بِهَا
وَذَرُوا
الَّذِينَ
يُلْحِدُونَ
فِي
أَسْمَائِهِ
سَيُجْزَوْنَ
مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ Artinya: "Hanya milik Allah
al-Asma' al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma'
al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan. Dalam keterangan yang lain dijelaskan bahwa al-Asma' al-Husna merupakan amalan
yang bermanfaat dan mempunyai nilai yang tak terhingga tingginya dan berdoa
dengan menyebut al-Asma' al-Husna sangat dianjurkan menurut ayat tersebut. Adapun hadist Rasulullah ﷺ terkait al-Asma' al-Husna adalah sebagai berikut yaitu
yang telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari: إنَّ
لِلَّهِ
تِسْعَةً
وَتِسْعِينَ
اسْمًا
مِائَةً
إِلَّا
وَاحِدًا،
مَنْ
أَحْصَاهَا
دَخَلَ
الجَنَّةَ Artinya: “Dari Abu Hurairah
sesungguhnya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh
sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang hafal, maka ia akan
masuk surga”. (H.R. Bukhari). Berdasarkan hadis di atas dapat kita
pahami bahwa jika hafal al-Asma' al-Ĥusna akan mengantarkan orang yang
hafal masuk ke dalam surga Allah. Apakah hanya dengan hafal
seseorang dengan mudah akan masuk ke dalam surga? Jawabnya adalah tidak
hanya hafal akan al-Asma' al-Husna saja, tetapi harus diiringi juga dengan
menjaganya, baik menjaga hafalannya dengan terus-menerus berdzikir dengannya,
maupun menjaganya dengan menghindari perilaku-perilaku yang bertentangan
dengan sifat-sifat Allah dalam al-Asma' al-Husna tersebut. 3. Memahami makna: al-Karim, al-Mu'min,
al-Wakil, al- Matin, al-Jami', al-‘Adl dan al-Akhir. a. Al-Karim Secara bahasa, al-Karim mempunyai arti
Yang Maha Mulia, bahwa Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah yang memberi
anugerah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai
Dzat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi nikmat dan
keutamaan baik ketika ada yang bermohon maupun tidak. Hal tersebut sesuai
dengan firman-Nya yang artinya: “Hai manusia apakah yang telah
memperdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah? (Q.S. al-Infitar: 6). Al-Karim juga mempunyai makna Maha
Pemberi karena Allah senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya.
Manusia tidak boleh berputus asa dari kedermawanan Allah walau diri kita
merasa masih kurang, karena kedermawanan-Nya tidak hanya dilihat dari harta
yang dititipkan melainkan meliputi segala hal. Manusia yang berharta dan
dermawan hendaklah tidak sombong karena telah memperoleh anugerah dari sifat
dermawan Allah. Dengan demikian, bagi orang yang diberikan harta melimpah oleh
Allah maupun tidak, maka keduanya harus selalu bersyukur kepada-Nya karena
orang yang sesederhana apapun hidupnya juga telah diberikan nikmat
selain harta. b. Al-Mu'min Al-Mu'min secara bahasa berasal dari
kata amina yang berarti pembenaran, ketenangan hati dan aman. Allah al-Mu'min
artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada siapapun
yang mau terus bermohon kepada-Nya dan dengan demikian, hati manusia menjadi
tenang. Kehidupan ini penuh dengan berbagai permasalahan, tantangan, dan
cobaan. Jika bukan karena Allah yang memberikan rasa aman dalam hati, niscaya
kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas. Perhatikan firman Allah berikut ini: الَّذِينَ
آمَنُوا
وَلَمْ
يَلْبِسُوا
إِيمَانَهُم
بِظُلْمٍ
أُولَٰئِكَ
لَهُمُ الْأَمْنُ
وَهُم
مُّهْتَدُونَ Artinya: “Orang-orang yang beriman dan
tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzoliman, mereka itulah
orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk.” (Q.S. al-An'am/6:82). Ketika kita akan menyeru dan berdoa
kepada Allah dengan nama-Nya al-Mu'min, berarti kita memohon diberikan
keamanan, dihindarkan dari fitnah, bencana, dan siksa. Karena Dia lah Yang
Maha Memberikan keamanan, Dia yang Maha Pengaman. Dan ketahuilah bahwa dalam
nama al-Mu'min terdapat kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Ada pertolongan dan
perlindungan, ada jaminan (insurance) dan ada bala bantuan. Berdzikir dengan nama
Allah al-Mu'min di samping menumbuhkan dan memperkuat keyakinan,
memberikan rasa aman dan nyaman pada diri kita, juga demikian itu pula kepada
orang lain jika kita menghayati ma'na al-Mu'min. Mengamalkan dan meneladani al-Asma'
al-Husna al-Mu'min, artinya bahwa seorang yang beriman harus menjadikan orang
yang ada di sekelilingnya aman dari gangguan lidah dan tangannya. c. Al-Wakil Kata “al-Wakil” mengandung arti Maha Mewakili
atau Memelihara. Al-Wakil (Yang Maha Mewakili atau Memelihara), yaitu Allah
yang Kuasa Memelihara dan Maha Kuasa atas segala kebutuhan makhluk-Nya, baik
itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dia Naha Kuasa menyelesaikan
segala sesuatu terutama bagi siapapun dari para hamba-Nya yang mau bermohon
kepada-Nya. Firman-Nya dalam al-Qur'an yang artinya: “Allah Pencipta segala
sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (Q.S. az-Zumar/39:62). Dengan demikian, orang yang
mempercayakan segala urusannya kepada Allah, akan memiliki keyakinan bahwa
semua akan terselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu hanya dapat dilakukan
oleh hamba yang meyakini sepenuh hati bahwa Allah yang Maha Kuasa. d. Al-Matin Al-Matin artinya Maha Sempurna dalam
kekuatan dan kekukuhan-Nya. Allah juga Maha Kukuh dalam
kekuatan-kekuatan-Nya. Dengan demikian, kekukuhan Allah yang memiliki rahmat
dan azab terbukti ketika Allah memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya.
Tidak ada apa pun yang dapat menghalangi rahmat ini untuk sampai kepada
siapapun yang dikehendaki. Demikian juga tidak ada kekuatan yang dapat
mencegah pembalasan-Nya. Seseorang yang menemukan kekuatan dan
kekukuhan Allah akan membuatnya menjadi manusia yang tawakkal, memiliki
kepercayaan dalam jiwanya. Dengan demikian, akhlak kita terhadap sifat al-Matin
adalah dengan beristiqamah (meneguhkan pendirian), beribadah dengan
kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan, terus berusaha
dan tidak putus asa serta bekerja sama dengan orang lain sehingga menjadi
lebih kuat. e. Al-Jami' Al-Jami' secara bahasa artinya Yang
Maha Mengumpulkan, Maha Menghimpun, yaitu bahwa Allah Maha Mengumpulkan, Maha
Menghimpun segala sesuatu yang tersebar dan bercerai-berai. Allah Maha
Mengumpulkan apa yang dikehendaki-Nya dan di mana pun dan kapan pun jika
Allah berkehendak. Penghimpunan ini ada berbagai macam
bentuknya, di antaranya adalah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka
ragam, termasuk manusia dan lain-lainnya, di permukaan bumi ini dan kemudian
mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat. Allah berfirman yang
artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk
(menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya
Allah tidak menyalahi janji.”(Q.S. Ali Imran/3:9). Allah akan menghimpun manusia di
akhirat kelak bersama dengan orang-orang yang satu golongan dengannya di
dunia. Hal ini dapat dijadikan sebagai barometer, kepada siapa kita
berkumpul di dunia itulah yang akan menjadi teman kita di akhirat. Walaupun kita berjauhan secara fisik,
akan tetapi hati kita terhimpun, di akhirat kelak kita juga akan terhimpun
dengan mereka. Begitupun sebaliknya, walaupun kita berdekatan secara fisik
akan tetapi hati kita jauh, maka kita juga tidak akan berkumpul dengan
mereka. Oleh sebab itu, apabila di dunia hati
kita terhimpun dengan orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya,
di akhirat kelak kita akan berkumpul dengan mereka di dalam neraka. Karena
orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, tempatnya adalah di
neraka. Begitupun sebaliknya, apabila kecenderungan hati kita terhimpun
dengan orang-orang yang beriman, bertakwa dan orang-orang saleh, di akhirat kelak
kita juga akan terhimpun dengan mereka. Allah juga mengumpulkan di dalam diri
seorang hamba ada yang sempurna ma'rifatnya dan baik tingkah lakunya, maka ia
disebut juga sebagai al-Jami'. Dan ada dikatakan bahwa al-Jami' ialah orang
yang tidak padam cahaya ma'rifatnya. f. Al-‘Adl Al-‘Adl artinya Maha Adil. Keadilan
Allah bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apa pun dan oleh siapa
pun. Keadilan Allah juga didasari dengan ilmu Allah yang Maha Luas.
Dengan demikian, tidak mungkin keputusan-Nya itu salah. Allah berfirman yang
artinya: “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur'an), sebagai kalimat yang
benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah
yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-An'am/6:115). Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala yang
berarti lurus dan sama. Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus dan
sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan
inilah yang menunjukkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang
yang sedang berselisih. Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada
tempat yang semestinya. Allah mempunyai nama al-‘Adl karena keadilan Allah
adalah sempurna. Dengan demikian, semua yang diciptakan dan ditentukan oleh
Allah sudah menunjukkan keadilan yang sempurna. Hanya saja, banyak di antara
kita yang tidak menyadari atau tidak mampu menangkap keadilan Allah terhadap
apa yang menimpa makhluk-Nya. Oleh karena itu, sebelum menilai sesuatu itu
adil atau tidak, kita harus dapat memperhatikan dan mengetahui segala sesuatu
yang berkaitan dengan kasus yang akan dinilai. Akal manusia tidak dapat menembus
semua dimensi tersebut. Seringkali ketika manusia memandang sesuatu secara
sepintas dinilainya buruk, jahat, atau tidak adil, tetapi jika dipandangnya
secara luas dan menyeluruh, justru sebaliknya, merupakan suatu keindahan,
kebaikan atau keadilan. Tahi lalat secara sepintas terlihat buruk, namun jika
berada di tengah-tengah wajah seseorang dapat terlihat indah. Di situlah
makna Allah Maha Adil. Dia menempatkan semua manusia pada posisi yang sama
dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan hanya karena keturunan, kekayaan,
atau karena jabatan. Dekat jauhnya posisi seseorang dengan Allah hanya diukur
dari seberapa besar mereka berusaha meningkatkan ketakwaannya. Makin tinggi takwa
seseorang, makin tinggi pula posisinya, makin mulia dan dimuliakan oleh Allah,
begitupun sebaliknya. Sebagian dari keadilan-Nya, Dia hanya
menghukum dan memberi sanksi kepada mereka yang terlibat langsung dalam
perbuatan maksiat atau dosa. Istilah dosa turunan, hukum karma, dan lain
semisalnya tidak dikenal dalam syari'at Islam. Semua manusia tanpa terkecuali
di hadapan Allah akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah
dilakukan dirinya sendiri. Lebih dari itu, keadilan Allah selalu
disertai dengan sifat kasih sayang. Dia memberi pahala
sejak seseorang berniat berbuat baik dan melipatgandakan
pahalanya jika kemudian direalisasikan dalam amal perbuatan.
Sebaliknya, Dia tidak langsung memberi catatan dosa selagi masih berupa niat
berbuat jahat. Sebuah dosa baru dicatat apabila seseorang telah benar-benar
berlaku jahat. g. Al-Akhir Al-Akhir artinya Yang Maha Akhir yang
tidak ada sesuatu pun setelah Allah. Dia Maha Kekal tatkala semua makhluk
hancur, Maha Kekal dengan kekekalan-Nya. Adapun kekekalan makhluk-Nya adalah
kekekalan yang terbatas, seperti halnya kekekalan surga, neraka, dan apa yang
ada di dalamnya. Surga adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan ketentuan,
kehendak, dan perintah-Nya. Nama ini disebutkan di dalam firman-Nya yang
artinya: “Dialah Yang Awal dan Akhir, Yang Dhahir dan Yang Batin, dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu“. (Q.S. al-Hadid/57:3). Allah berkehendak untuk menetapkan
makhluk yang kekal dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak secara
zat dan tabi'at. Karena secara tabi'at dan zat, seluruh makhluk ciptaan Allah
adalah fana (tidak kekal). Sifat kekal tidak dimiliki oleh makhluk dan
walaupun ada maka kekekalan yang ada hanya sebatas kekal untuk beberapa masa
sesuai dengan ketentuan-Nya. Orang yang mengesakan al-Akhir akan
menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup
selain-Nya, tidak ada pengharapan yang hakiki kepada selain-Nya, dan segala
kesudahan tertuju hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, jadikanlah akhir kesudahan
kita hanya kepada-Nya. Menerapkan Perilaku Mulia Setelah mempelajari keimanan kepada
Allah melalui sifat-sifatnya dalam al-Asma’ al-Husna, sebagai orang yang
beriman, kita wajib merealisaikannya agar memperoleh kebahagiaan hidup di
dunia dan di akhirat. Perilaku mencerminkan sikap memahami al-Asma’ al-Husna,
tergambar dalam aktivitas-aktivitas berikut: 1. Menjadi orang yang dermawan. Sifat dermawan adalah sifat Allah al-Karim
(Maha Pemurah), sehingga sebagai wujud keimanan tersebut, kita harus menjadi
orang yang pandai membagi kebahagiaan kepada orang lain baik dalam bentuk
harta atau bukan. Wujud kedermawanan tersebut, misalnya seperti menyisihkan
uang jajan untuk kotak amal, membantu teman yang sedang dalam kesulitan dan
lain sebagainya. 2. Menjadi orang yang jujur dan dapat
memberikan rasa aman. Wujud dari meneladani sifat
Allah al-Mu'min adalah seperti menolong teman atau orang lain yang
sedang dalam bahaya atau ketakutan, menyingkirkan duri, paku, atau benda lain
yang ada di jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan, membantu orang
tua atau anak-anak yang akan menyeberangi jalan raya. 3. Senantiasa bertawakkal kepada Allah. Wujud dari meneladani sifat Allah al-Wakil
dapat berupa menjadi pribadi yang mandiri, melakukan pekerjaan tanpa harus merepotkan
orang lain, bekerja dan belajar dengan sunguh-sungguh karena Allah tidak akan
mengubah nasib seseorang apabila orang tersebut tidak mau berusaha. 4. Menjadi pribadi yang kuat dan teguh
pendirian. Perwujudan meneladani dari sifat Allah al-Matin
dapat berupa: tidak mudah terpengaruh oleh rayuan atau ajakan orang lain untuk melakukan perbuatan tercela, serta kuat dan
sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang dihadapi. 5. Berkarakter pemimpin. Pewujudan meneladani sifat Allah al-Jami',
di antaranya seperti mempersatukan orang-orang yang sedang berselisih,
semisal juga hidup bermasyarakat agar dapat memberikan manfaat kepada orang
lain. 6. Berlaku adil. Perwujudan meneladani sifat Allah al-‘Adl,
misalnya tidak memihak atau membela orang yang bersalah meskipun
orang tersebut saudara atau teman kita, menjaga diri sendiri, orang lain
dan lingkungan sekitar dari kezaliman baik dari diri sendiri maupun yang
lainnya. 7. Menjadi orang yang bertakwa. Meneladani sifat Allah al-Akhir adalah
dengan cara seperti melaksanakan perintah Allah seperti śalat lima
waktu, patuh dan hormat kepada orang tua dan guru, meninggalkan dan menjauhi
semua larangan Allah seperti mencuri, minum-minuman keras, berjudi,
pergaulan bebas, melawan orang tua, dan larangan lainnya. Jawablah beberapa pertanyaan berikut
ini: 1. Bagaimana cara kita meneladani
al-Asma' al-Husna al-Karim? 2. Jelaskan manfaat dari meneladani
al-Asma' al-Husna al-Wakil! 3. Bagaimana cara kita untuk meneladani
al-Asma’ al-Husna al-Adl? 4. Bagaimana strategi kita untuk dapat
meneladani al-Asma’ al-Husna al-Matin? 5. Jelaskan manfaat dari meneladani
al-Asma’ al-Husna al-Akhir |
Lebih baru
Terlama