Iman, Imun, Aman, Ilmu dan Amin (Asmaul Husna)

Iman, Imun, Aman, Ilmu dan Amin

Pada pertemuan lalu, kita telah belajar bab 2 tentang "Keimanan" sub-bab: Aku Selalu Dekat Dengan Allah, yaitu tentang pengertian al-Asmaul Husna dan Dzikir.

Mari kita mengingat kembali, apa pengertian "al-Asmaul Husna"? Dan apa pengertian "Dzikir"?

Al-Asma'ul Husna terdiri atas dua kata, yaitu "Asma" yang berarti nama-nama, dan "Husna" yang berarti baik atau indah. Tetapi di dalam agama Islam, al-Asma' al-Husna diartikan khusus sebagai nama-nama yang baik lagi indah yang hanya dimiliki oleh Allah sebagai salah satu cara bagi setiap orang yang mencintai-Nya agar bisa mengagungkan-Nya.

Dzikir artinya mengingat Allah dengan memuji dan menyebut nama-Nya.

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

Artinya: "Hanya milik Allah al-Asma' al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma' al-Husna". (al-A'raf:180).

Dalam keterangan yang lain dijelaskan bahwa al-Asma' al-Husna merupakan amalan yang bermanfaat dan mempunyai nilai yang tak terhingga tingginya dan berdoa dengan menyebut al-Asma' al-Husna sangat dianjurkan.

Sekarang mari kita memahami 3 nama dari al-Asmaul Husna: al-Karim, al-Mu'min, al-Wakil.

a. Al-Karim

Secara bahasa, al-Karim mempunyai arti Yang Maha Mulia, Maha Pemurah, Yang Maha Memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya. Al-Karim juga mempunyai makna Maha Pemberi karena Allah senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya.

Manusia tidak boleh berputus asa dari kedermawanan Allah walau diri kita merasa masih kurang, karena kedermawanan-Nya tidak hanya dilihat dari harta yang dititipkan melainkan meliputi segala hal. Manusia yang berharta dan dermawan hendaklah tidak sombong karena telah memperoleh anugerah dari sifat dermawan Allah. Dengan demikian, bagi orang yang diberikan harta melimpah oleh Allah maupun tidak, maka keduanya harus selalu bersyukur kepada-Nya karena orang yang sesederhana apapun hidupnya juga telah diberikan nikmat.

b. Al-Mu'min

Al-Mu'min artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada siapapun yang mau terus bermohon kepada-Nya.

Kehidupan ini penuh dengan berbagai permasalahan, tantangan, dan cobaan. Jika bukan karena Allah yang memberikan rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas terutama saat adanya Covid-19.

Meningkatkan keimanan, menjaga imunitas tubuh, menciptakan keamanan, dan mengamini doa-doa untuk keselamatan nasional termasuk usaha keikut-sertaan kita dalam menjaga masyarakat Indonesia terutama saat adanya Covid-19. 

Wabah penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri mungkin bukanlah hal baru yang dialami oleh masyarakat dahulu dan sekarang. Bentuk dan spesifikasi virus dan proses pencegahan dan penanggulangan serta penyembuhan yang berbeda hingga covid 19 menjadi hal baru yang terjadi di berbagai negara. Adapun prosedur dan protokoler di masa Rasulullah dan para sahabat yang juga pernah mengalami terjadinya wabah penyakit menular pada suatu wilayah hingga dilarang untuk masuk ke wilayah tersebut begitu juga sebaliknya.

Berkaitan dengan kondisi saat ini maka kita sebagai umat beragama yang beriman kepada Allah, kita meyakini bahwa ketentuan Allah ada di setiap hal serta diwajibkan kepada kita untuk selalu berupaya serta berdoa untuk kebaikan dengan sabar karena ini juga termasuk ujian.

Adapun ayat yang berkaitan dengan hal tersebut:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٍ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah, Ayat 155 ).

Dalam Al-Qur’an Allah juga menceritakan kisah nabi Aiyub disaat di timpa musibah penyakit:

وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Dan (ingatlah kisah Nabi) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Surat Al-Anbiya’, Ayat 83).

فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرّ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَة مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ

Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua Abidin. (Surat Al-Anbiya’, 84).

Dalam ayat di atas membuktikan bahwa peran doa dalam setiap musibah sangat penting tentunya disertai usaha yang maksimal.

لَهُۥ مُعَقِّبَٰت مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡم سُوٓءا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(Surat Ar-Ra’d, Ayat 11).

Sesungguhnya apapun musibah yang terjadi adalah agar kita selalu mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan nilai-nilai kesadaran dan keimanan serta ketaqwaan karena semua urusan di alam ini sungguh adalah hak Allah semata dan kita harus senantiasa  berprasangka baik kepada Allah dan  tanda-tanda kebesaran Allah Yang Maha Kuasa.

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّام ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰت بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Rab seluruh alam. (Surat Al-A’raf, Ayat 54).

تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۗ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡما لِّلۡعَٰلَمِينَ

Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepada kamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzhalimi (siapapun) di seluruh alam. (Surat Ali ‘Imran, Ayat 108).

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَة لِّلۡمُؤۡمِنِين

Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang beriman. (Surat Al-Hijr, Ayat 77

Iman berkaitan erat dengan imunitas tubuh. Iman mengajarkan kita untuk berpasrah kepada Tuhan dengan terus berusaha keras mengerahkan seluruh sumber daya yang diberikan untuk mencapai level kehidupan yang lebih baik. Level kehidupan yang lebih baik adalah hidup tanpa gangguan apapun, termasuk penyakit.

Untuk menjaga keimanan, kita wajib meningkatkan imunitas dengan tidur atau beristirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, olahraga, dan menjaga suasana hati agar selalu senang gembira. Suasana hati yang selalu senang gembira hanya bisa diraih oleh mereka yang tidak punya masalah atau musuh, tidak punya kebencian, dendam, dan nafsu serakah. Suasana hati yang penuh suka-cita adalah milik mereka yang dekat dengan Yang Maha Kuasa, Sumber segala kedamaian dan kebahagiaan.

Menjaga Kesehatan bisa dengan mematuhi kebijakan pemerintah yang mempunyai orang-orang yang ahli dibidangnya terutama dalam hal kesehatan dan menjaga keimanan melalui banyak berdzikir dan bersholawat. Selain itu dengan berada di rumah bukan berarti tidak melakukan aktivitas apa-apa. Disamping memutus mata rantai penyebaran penularan Covid-19, umat muslim dapat melakukan berbagai hal untuk meningkatkan keimanan pada Allah.

Inilah saatnya umat muslim kembali menyadari bahwa Allah-lah yang memiliki kekuasaan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Penegasan ini seharusnya bukan hanya pada lisan saja, tapi harus diwujudkan dalam tindakan kita.

Walau dengan berada di rumah, umat muslim juga harus bersama-sama mengagungkan Allah melalui dzikir dan sholawat untuk kesehatan dan keamanan.

Maka dari itu marilah kita bersama-sama menjaga iman dan imun agar semuanya aman serta tetap mencari Ilmu dan mau berdo'a amin.

Ketika kita akan menyeru dan berdoa kepada Allah dengan nama-Nya al-Mu'min, berarti kita memohon diberikan keamanan, dihindarkan dari fitnah, bencana, dan siksa. Karena Dia lah Yang Maha Memberikan keamanan, Dia yang Maha Pengaman. Dan ketahuilah bahwa dalam nama al-Mu'min terdapat kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Ada pertolongan dan perlindungan, ada jaminan (insurance) dan ada bala bantuan.

Berdzikir dengan nama Allah al-Mu'min di samping menumbuhkan dan memperkuat keyakinan, memberikan rasa aman dan nyaman pada diri kita, juga demikian itu pula kepada orang lain jika kita menghayati ma'na al-Mu'min.

Mengamalkan dan meneladani al-Asma' al-Husna al-Mu'min, artinya bahwa seorang yang beriman harus menjadikan orang yang ada di sekelilingnya aman dari gangguan lidah dan tangannya.

c. Al-Wakil

Kata "al-Wakil" mengandung arti Maha Mewakili, Maha Memelihara. Dia Maha Kuasa menyelesaikan segala sesuatu terutama bagi siapapun dari para hamba-Nya yang mau bermohon kepada-Nya. Firman-Nya dalam al-Qur'an yang artinya: “Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (Q.S. az-Zumar/39:62).

Dengan demikian, orang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah, akan memiliki keyakinan bahwa semua akan terselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh hamba yang meyakini sepenuh hati bahwa Allah yang Maha Kuasa.

Menerapkan Perilaku Mulia

Setelah mempelajari keimanan kepada Allah melalui sifat-sifatnya dalam al-Asma’ al-Husna, sebagai orang yang beriman, kita wajib merealisaikannya agar memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Perilaku mencerminkan sikap memahami al-Asma’ al-Husna, tergambar dalam aktivitas-aktivitas berikut:

1. Menjadi orang yang dermawan.

Sifat dermawan adalah sifat Allah al-Karim (Maha Pemurah), sehingga sebagai wujud keimanan tersebut, kita harus menjadi orang yang pandai membagi kebahagiaan kepada orang lain baik dalam bentuk harta atau bukan. Wujud kedermawanan tersebut, misalnya seperti menyisihkan uang jajan untuk kotak amal, membantu teman yang sedang dalam kesulitan dan lain sebagainya.

2. Menjadi orang yang jujur dan dapat memberikan rasa aman.

Wujud dari meneladani sifat Allah al-Mu'min adalah seperti menolong teman atau orang lain yang sedang dalam bahaya atau ketakutan, menyingkirkan duri, paku, atau benda lain yang ada di jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan, membantu orang tua atau anak-anak yang akan menyeberangi jalan raya.

3. Senantiasa bertawakkal kepada Allah.

Wujud dari meneladani sifat Allah al-Wakil dapat berupa menjadi pribadi yang mandiri, melakukan pekerjaan tanpa harus merepotkan orang lain, bekerja dan belajar dengan sunguh-sungguh karena Allah tidak akan mengubah nasib seseorang apabila orang tersebut tidak mau berusaha.

Jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

1. Bagaimana cara kita meneladani al-Asma' al-Husna al-Karim?

2. Jelaskan manfaat berdzikir dengan nama Allah Al-Mukmin saat adanya Covid sekarang ini!

2. Jelaskan manfaat dari meneladani al-Asma' al-Husna al-Wakil!