Bahaya Ghodlob, Anjuran Mujahadatun Nafs dan Syaja'ah
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:
- Menganalisis manfaat menghindari sikap temperamental (ghadhab), serta menumbuhkan sikap kontrol diri dan keberanian dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pengertian, dalil, macam, hingga manfaatnya.
- Menyajikan paparan mengenai upaya menghindari perilaku temperamental serta membiasakan sikap kontrol diri dan berani membela kebenaran.
- Meyakini bahwa sikap temperamental merupakan hal yang dilarang, sedangkan sikap mengontrol diri dan berani membela kebenaran adalah perintah dalam ajaran agama.
- Menghindari sikap temperamental serta membiasakan sikap mengontrol diri dan berani membela kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
B. Infografis
Setelah mempelajari materi tentang menghindari akhlak madzmumah (sikap temperamental) dan membiasakan akhlak mahmudah (kontrol diri dan berani membela kebenaran), maka saya akan berkomitmen untuk:
| Upaya Menghindari Akhlak Madzmumah | Upaya Membiasakan Akhlak Mahmudah |
|---|---|
| 🤲 Menjadi orang yang sabar dan tidak mudah marah | 🛡️ Selalu menjaga serta mengontrol diri, dan berani membela kebenaran serta keadilan |
C. Ayo Tadarus
Aktivitas 8.1
Sebelum memulai pelajaran, marilah kita tadarus Al-Qur'an terlebih dahulu.
- Bacalah Q.S. Ali Imran/3: 133-134 berikut ini secara bersama-sama dengan tartil!وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
- Perhatikan makhraj dan hukum bacaannya!
Kisah Inspirasi
Aktivitas 8.2
Cermatilah gambar-gambar berikut ini! Lalu tuliskanlah kesimpulan kamu mengenai pesan moral yang disampaikan dari gambar tersebut. Apakah kalian sudah menerapkan sikap sesuai yang ditunjukkan dalam gambar tersebut? Jelaskan!
| Gambar 8.1Tahan Amarahmu | Gambar 8.2Kendalikan Dirimu | Gambar 8.4Berani Membela Kebenaran | Gambar 8.5Katakanlah Kebenaran! |
|---|---|---|---|
| Ilustrasi menahan diri saat marah | Ilustrasi kemampuan mengontrol diri dari emosi negatif | Ilustrasi tindakan berani membela kebenaran | Ilustrasi menyampaikan kebenaran dengan tegas |
Aktivitas 8.3
Bacalah dengan cermat dan teliti kisah inspiratif berikut ini! Lalu simpulkan dan tuliskan di buku kalian, hikmah apakah yang bisa kita petik dari kisah tersebut! Kaitkanlah hikmah dari kisah tersebut dengan pengalaman hidup yang kalian alami!
KISAH PAKU DAN SEBATANG BALOK KAYU
Alkisah, tersebutlah seorang murid yang memiliki sifat temperamental, mudah marah, dan kesulitan mengendalikan dirinya. Ia selalu mengalami kesulitan untuk mengontrol emosinya, bahkan sering marah serta berkata kasar hanya karena kesalahan kecil orang lain yang membuatnya tersinggung. Hingga pada suatu hari, ia dipanggil oleh gurunya. Sang guru merasa berkewajiban untuk menasehati dan membimbing murid ini agar memiliki akhlak yang lebih baik, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Sang guru meminta muridnya untuk menyiapkan sebatang balok kayu, palu, dan paku. Dengan pendekatan serta sentuhan hati yang tulus, guru itu pun meminta kepadanya agar setiap kali ia marah, ia harus menancapkan satu buah paku ke balok kayu dengan menggunakan palu yang sudah disiapkan. Berapa kali pun marah, ia harus melakukan hal tersebut dengan paku-paku yang baru. Ia pun menerima nasihat dari gurunya dan bersedia melakukannya.
Keesokan harinya, ia kembali dipanggil oleh sang guru di sekolah dan ditanya, "Dari kemarin sampai pagi ini sudah berapa buah paku yang engkau tancapkan di atas balok kayu itu?" Ia menjawab, "Dua puluh, Guru," jawabnya sambil menunduk malu. Dalam hati ia menyadari, ternyata hampir setiap satu jam ia marah kepada orang lain. Sang guru pun tidak berkomentar apa-apa dan memintanya untuk kembali lagi minggu depan serta berpesan untuk terus melanjutkan kegiatan itu.
Satu minggu berlalu dan saatnya sang guru memanggilnya kembali. Dengan wajah berseri-seri, ia menghadap kepada gurunya dan berkata, "Terima kasih, Guru. Karena nasihat yang Guru berikan, yang tadinya satu hari saya menancapkan 20 buah paku, pelan-pelan mulai berkurang. Dan dari kemarin hingga pagi ini saya sama sekali tidak menancapkan paku lagi."
Mendengar hal itu, sang guru pun menjawab, "Bagus sekali, Nak. Kalau begitu, tugasmu selanjutnya adalah setiap kali engkau berhasil menahan amarahmu, maka cabutlah satu paku yang engkau tancapkan sebelumnya. Lakukan hal itu setiap hari, nanti engkau boleh kembali lagi setelah engkau berhasil mencabut semua paku di balok kayu itu."
Hari demi hari berlalu, berganti minggu dan beberapa bulan kemudian, murid itu pun kembali menghadap gurunya dengan wajah yang berseri-seri tetapi penuh dengan rasa penasaran. "Guru, saya telah mencabut semua paku seperti yang Guru nasihatkan, setiap kali saya bisa mengendalikan amarah saya. Dan saat ini semua paku sudah berhasil saya cabut," lapornya.
"Luar biasa sekali, anakku. Tentu tidak mudah bagimu untuk melakukan apa yang aku sarankan. Dan sekarang, bolehkan aku bertamu ke rumahmu dan melihat paku-paku dan balok kayu itu?" tanya sang guru. Ia menjawab dengan cukup penasaran, "Baiklah, Guru. Tapi kalau boleh tahu, untuk apa Guru melihat paku-paku dan balok kayu itu?"
"Nanti kamu juga akan tahu," jawab sang guru.
Kemudian, guru dan murid itu pun beriringan menuju ke rumah sang murid dan kemudian melihat balok kayu yang sudah bersih dari tancapan paku. Namun, balok kayu itu terlihat buruk karena bekas-bekas lubang paku yang dicabut.
Lalu sang guru berkata, "Anakku, engkau sudah melakukan hal yang luar biasa dengan menahan amarahmu. Tapi engkau juga harus tahu bahwa ada akibat yang engkau timbulkan dari amarahmu selama ini. Ketika engkau marah dan meluapkan emosimu dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, maka hal itu seperti kiasan paku yang menancap di balok kayu ini. Tidak ada bedanya kemarahan yang disengaja maupun kemarahan yang spontan, semuanya sama-sama berakibat buruk bagi orang lain," kata sang guru dengan penuh bijaksana.
"Anakku, tidak cukup bagimu hanya menyesali, meminta maaf, dan memohon ampunan kepada Allah Swt. atas apa yang pernah engkau perbuat. Permintaan maafmu kepada orang yang pernah engkau sakiti, ibarat engkau mencabut paku-paku itu dari balok kayu. Pakunya bisa dicabut, tetapi bekas lubang pakunya tidak bisa hilang. Demikian juga dengan sakit hati, barangkali orang lain bisa memaafkan, tetapi belum tentu ia bisa melupakan apa yang pernah kita lakukan kepadanya. Oleh karena itu, janganlah engkau meremehkan kata-kata buruk, emosi, dan kemarahanmu kepada orang lain, karena luka yang disebabkan oleh kata-kata sama sakitnya dengan luka fisik yang kita alami," pungkas sang guru.
Murid itu pun menunduk dan menyadari bahwa sifat temperamental yang ia miliki selama ini ternyata berdampak buruk bagi orang lain dan merugikan dirinya sendiri. Ia pun berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dengan mengendalikan amarah dan emosinya dalam kehidupan berikutnya.(Dinarasikan kembali dari rumahinspirasi.com)
D. Wawasan Keislaman
Setiap manusia terlahir dengan fitrah dan sifat masing-masing. Ada yang terlahir dengan sifat yang tenang, santun, mudah beradaptasi, dan ramah kepada setiap orang. Ada juga yang memiliki sifat bawaan pemurung, pendiam, mudah marah, mudah tersinggung, dan lain sebagainya.
Di sekitar kita, orang yang mudah tersinggung dan mudah marah sering disebut dengan temperamental, yaitu kondisi di mana amarah seseorang dapat meningkat dengan cepat. Apabila kondisi seperti itu dibiarkan terus-menerus, maka tentu akan berpengaruh terhadap aktivitas dan sosialisasi mereka dengan lingkungan di sekitarnya. Sifat temperamental yang tidak dikendalikan dan tidak diupayakan untuk dirubah ibarat menyimpan bom waktu, karena akan berpotensi untuk mendatangkan masalah dari waktu ke waktu.
Oleh karena itulah, baik dalam Al-Qur'an maupun hadis, banyak sekali dalil yang melarang seorang mukmin untuk memiliki sifat pemarah dan temperamental, karena akan mendatangkan kerugian baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, pada kehidupan di dunia hingga kehidupan di akhirat.
Seorang mukmin harus bekerja keras untuk menahan amarahnya agar terhindar dari hal-hal yang merugikan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. berikut ini:
Dari Abu Hurairah RA berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw., "Berilah aku wasiat." Beliau menjawab, "Janganlah engkau marah." Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya (namun) Nabi Saw. (selalu) menjawab, "Janganlah engkau marah."(H.R. Bukhari)
Sebaliknya, seorang mukmin harus mampu menjaga dan mengontrol dirinya. Godaan setan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama datang silih berganti menguji keimanan dan kemampuan kita untuk mengendalikan diri setiap hari. Apabila kita tidak mampu mengontrol diri dan mengikuti bisikan serta godaan untuk melakukan hal-hal yang terlarang tersebut, maka tentu saja kita akan terjerumus ke dalamnya. Namun, apabila kita mampu mengontrol diri dengan baik, maka kita akan terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Seorang muslim juga harus memiliki sifat berani membela kebenaran. Keberanian yang harus dilakukan oleh seorang muslim adalah keberanian yang berlandaskan kepada kebenaran dan dilakukan dengan penuh pertimbangan serta perhitungan semata-mata untuk mengharapkan rida Allah Swt.
a). Menghindarkan Diri dari Sifat Temperamental (Ghadhab)
1. Definisi Sifat Temperamental (Ghadhab)
Temperamental atau sifat mudah marah dalam bahasa Arab berasal dari kata ghadhab, dari kata dasar ghadhiba – yaghdhibu – ghadhaban.
Menurut istilah, ghadhab berarti sifat seseorang yang mudah marah karena tidak senang dengan perlakuan atau perbuatan orang lain. Sifat amarah selalu mendorong manusia untuk bertingkah laku buruk.
- Menurut Sayyid Muhammad Nuh dalam kitab ‘Afatun ‘ala at-Thariq, marah adalah perubahan emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna melampiaskan dan mengobati apa yang ada di dalam hati.
- Dalam perspektif ilmu tasawuf, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa marah adalah tekanan nafsu dari hati yang mengalirkan darah pada bagian wajah yang mengakibatkan kebencian kepada seseorang.
Lawan kata dari sifat ghadhab adalah rida (menerima dengan senang hati) dan al-hilm (murah hati, tidak cepat marah). Ghadhab sering dikiaskan seperti nyala api yang terpendam di dalam hati, sehingga orang yang sedang dalam keadaan marah, wajahnya akan memerah seperti api yang menyala.
“Jangan marah, maka bagimu surga”(Gambar 8.6)
Sifat ghadhab harus dihindari, karena sifat tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru sebaliknya akan menimbulkan masalah baru. Seorang muslim harus senantiasa bersabar dan berusaha menahan amarahnya.
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang bersabar adalah orang yang sanggup bertahan menghadapi rasa sakit serta sanggup memikul beban atas sesuatu yang tidak disukainya.
Rasulullah Saw. bersabda:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang kuat, bukanlah orang yang menang berkelahi, namun orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika ia sedang marah.”(H.R. Bukhari dan Muslim)
2. Penyebab Sifat Temperamental (Ghadhab)
Marah (ghadhab) adalah situasi yang normal dan manusiawi karena ia merupakan sifat yang melekat pada tabiat seseorang. Namun seorang mukmin harus berusaha mengendalikan sifat marah tersebut dan berlatih dengan cara menjauhi sebab-sebab yang dapat menimbulkan kemarahan serta jangan mendekati hal-hal yang mengarah pada situasi yang dapat memancingnya.
Secara umum, penyebab kemarahan terdiri dari dua faktor yaitu:
a. Faktor Fisik (Jasmaniah)
Kehidupan manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmaniah (fisik) dan rohaniah (psikis). Keduanya harus mendapatkan porsi perhatian yang seimbang.
Adapun penyebab kemarahan secara fisik adalah:
- Kelelahan yang berlebihanOrang yang secara fisik terlalu lelah dalam bekerja bisa saja hatinya menjadi sensitif, mudah tersinggung sehingga mudah marah.
- Kekurangan zat-zat tertentu dalam tubuhKurangnya zat-zat tertentu dalam otak, misalnya kekurangan zat asam, maka otot-otot akan menjadi tegang, sistem pencernaan terganggu bahkan terjadi reaksi kimia pada otak sehingga mudah terbawa perasaan dan cepat tersinggung dengan sesuatu yang membuat tidak nyaman.
- Reaksi hormon kelaminHormon kelamin pun dapat menjadi penyebab seseorang menjadi mudah marah dan sensitif. Misalnya seseorang yang sedang mendekati siklus haidh, kita sering mendengar adanya sindrom pramenstruasi yang ditandai dengan munculnya gejala perubahan suasana hati, kelelahan, mudah marah, depresi, dan lain sebagainya.
b. Faktor Psikis (Rohaniah)
Faktor psikis yang dapat menyebabkan sifat temperamental atau mudah marah sangat erat kaitannya dengan karakter dan kepribadian seseorang. Berikut ini adalah beberapa sebab secara psikis yang dapat memunculkan amarah seseorang yaitu:
- Ujub (Bangga terhadap Diri Sendiri)Rasa bangga seseorang terhadap diri sendiri baik dalam hal pemikiran, pendapat, status sosial, keturunan, kekayaan merupakan salah satu sebab munculnya kemarahan seseorang apabila tidak dikendalikan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Ujub sangat dekat dengan kesombongan. Apabila seseorang yang memiliki sifat tersebut tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain seperti yang ia harapkan, maka sangat berpotensi munculnya sifat amarah yang dapat merugikan.
- Perdebatan atau PerselisihanDebat adalah adu argumen antara satu pihak dengan pihak lain untuk memutuskan atau mendiskusikan tentang sebuah perbedaan. Akibat buruk yang ditimbulkan dari sebuah perdebatan di kalangan masyarakat sangatlah banyak. Itulah sebabnya Islam melarang terjadinya perdebatan, meskipun yang diperdebatkan adalah sesuatu yang benar karena jika tidak didasari dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang benar, perdebatan tersebut dapat menimbulkan kemarahan dan mendatangkan perselisihan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. berikut ini:Dari Abi Umamah, berkata Nabi Muhammad Saw.: "Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik."(H.R. Abu Daud)
- Senda Gurau yang BerlebihanDalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dan mengalami sekumpulan orang yang gemar bercanda serta bersenda gurau. Namun, terkadang senda gurau tersebut melampaui batas kewajaran. Seringkali, candaan tersebut menggunakan perkataan yang tidak berfaedah, kasar, atau justru menyakiti hati orang lain.
Khalid bin Shafwan mengatakan bahwa senda gurau yang berlebihan dari seseorang bagaikan menghantam seseorang dengan batu besar, menusuk hidung dengan bau-bauan yang lebih menyengat dari pada bubuk lada, dan menyiram kepala seseorang dengan sesuatu yang sangat panas melebihi air yang mendidih. Lalu setelah itu ia hanya mengatakan, "Aku hanya bergurau,". Padahal, tindakan semacam itu sangat berpotensi mengundang kemarahan orang lain dan memutus tali silaturahmi.- Ucapan yang Keji dan Tidak SopanUcapan yang berupa celaan, hinaan, umpatan, fitnah, atau perkataan yang menyesakkan dada kepada orang lain, adalah salah satu pemicu utama munculnya kemarahan seseorang. Apabila kita tidak mampu mengendalikan lisan dan perkataan kita kepada orang lain, maka hal tersebut bisa saja menjadikan orang lain tersinggung, kemudian memicu terjadinya kemarahan hingga pertengkaran yang tidak ada habisnya dan pastinya akan merugikan kedua belah pihak.
- Sikap Permusuhan kepada Orang LainSeseorang yang sejak awal sudah memiliki bibit kebencian, iri hati, atau perasaan tidak suka kepada orang lain, cenderung lebih mudah tersulut emosinya. Hati yang sudah tertanam rasa permusuhan akan membuat seseorang selalu curiga, memandang buruk, atau mencari-cari kesalahan orang lain. Akibatnya, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak bermaksud buruk, bisa disalahartikan sehingga memicu timbulnya kemarahan.
b). Membiasakan Sikap Mengontrol Diri
Mengontrol diri atau dalam bahasa Arab sering disebut dengan mudzharatun-nafs merupakan kemampuan seseorang untuk menahan, mengendalikan, dan mengarahkan segala keinginan, emosi, dan perilakunya agar tetap berada di jalan yang lurus dan sesuai dengan aturan agama serta norma yang berlaku.Dalam ajaran Islam, mengontrol diri merupakan tingkatan orang-orang yang memiliki derajat keimanan yang tinggi. Hal ini karena mengontrol diri bukanlah hal yang mudah, mengingat manusia diciptakan memiliki hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.Berikut adalah beberapa poin penting mengenai sikap mengontrol diri:1. Dalil Tentang Pentingnya Mengontrol Diri
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surah At-Takwir ayat 28-29:"Sesungguhnya (Al-Qur'an) ini tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam semesta, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus."Jalan yang lurus tersebut hanya bisa ditempuh oleh mereka yang mampu mengendalikan diri dari godaan syetan dan hawa nafsunya. Selain itu, Allah Swt. juga berfirman dalam surah Ar-Ra'du ayat 11:"...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri..."Mengubah keadaan diri sendiri dimulai dengan kemampuan untuk mengontrol diri agar menjadi lebih baik.2. Manfaat Mengontrol Diri
Membiasakan sikap mengontrol diri dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak positif yang besar, antara lain:- Terhindar dari dosa dan kesalahan: Dengan mengontrol diri, kita mampu menahan diri dari perbuatan yang dilarang agama.
- Dihormati orang lain: Orang yang pandai mengontrol emosi dan perilakunya akan dipandang sebagai pribadi yang dewasa dan bijaksana.
- Menciptakan kedamaian hati: Ketika kita mampu mengendalikan diri, hati kita akan terasa lebih tenang dan tidak mudah gelisah.
- Mendapatkan pahala: Mengontrol diri merupakan perbuatan terpuji yang dicintai Allah Swt., sehingga mendatangkan pahala bagi pelakunya.
- Memudahkan menyelesaikan masalah: Masalah yang dihadapi dengan kepala dingin dan emosi yang terkontrol akan lebih mudah dicarikan solusinya.
3. Cara Melatih Mengontrol Diri
Mengontrol diri bukanlah bakat yang tiba-tiba ada, melainkan kemampuan yang harus dilatih dan dibiasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:- Selalu Mengingat Allah Swt.: Dengan banyak berzikir dan mengingat janji-janji Allah serta ancaman-ancaman-Nya, kita akan lebih takut untuk berbuat melanggar aturan.
- Mengingat Akibat Buruknya: Sebelum melakukan sesuatu atau meluapkan emosi, cobalah berpikir sejenak mengenai dampak yang akan ditimbulkan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
- Berteman dengan Orang yang Baik: Lingkungan pertemanan sangat berpengaruh pada karakter seseorang. Bertemanlah dengan orang-orang yang mengajak pada kebaikan dan kesabaran.
- Beristirahat dan Menjaga Kesehatan: Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kondisi fisik yang lemah atau kelelahan bisa memicu emosi. Oleh karena itu, jaga kesehatan agar fisik dan mental tetap prima.
- Mengubah Pola Pikir: Belajarlah untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan atau menyimpulkan sesuatu.
c). Membiasakan Sikap Berani Membela Kebenaran
Keberanian dalam Islam memiliki makna yang sangat mulia. Keberanian yang dimaksud bukanlah keberanian yang didasari oleh amarah, sombong, atau ingin dipuji orang lain, melainkan keberanian yang murni semata-mata karena Allah Swt. untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.1. Definisi Berani Membela Kebenaran
Berani membela kebenaran artinya sikap mental dan tindakan seseorang yang tegas, tidak ragu, serta tidak takut dalam menyampaikan, melakukan, atau mempertahankan hal yang baik dan benar, sekalipun hal tersebut bertentangan dengan keinginan orang banyak, penguasa, atau bahkan membahayakan dirinya sendiri.Sebaliknya, seseorang juga harus berani meninggalkan dan melarang segala bentuk kebatilan, kejahatan, serta kemaksiatan.2. Dalil Tentang Berani Membela Kebenaran
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 135:"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa pun yang kamu kerjakan."Selain itu, Rasulullah Saw. bersabda:"Sebaik-baik jihad adalah mengucapkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim."(H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)Hadis lain menyebutkan:"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman."(H.R. Muslim)3. Adab dan Cara Berani Membela Kebenaran
Meskipun berani membela kebenaran itu wajib, namun dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan adab dan tata cara yang baik agar tujuan yang diinginkan tercapai tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Adab-adab tersebut antara lain:- Didasari dengan Ilmu: Sebelum membela atau menyampaikan kebenaran, pastikan bahwa apa yang kita sampaikan memang benar dan sesuai dengan dalil yang kuat, bukan sekadar asumsi atau pendapat pribadi semata.
- Menggunakan Cara yang Bijaksana: Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nahl ayat 125 untuk mengajak ke jalan Tuhan dengan cara yang bijaksana dan pengajaran yang baik serta berdebat dengan cara yang baik pula.
- Niat Semata-mata Karena Allah: Segala tindakan membela kebenaran harus didasari niat yang tulus untuk mengharap rida Allah Swt., bukan karena ingin terkenal, dipuji, atau mencari keuntungan pribadi.
- Sabar dan Tabah: Membela kebenaran seringkali mendapatkan tantangan, hambatan, atau bahkan permusuhan. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran dan ketabahan hati yang kuat agar tidak mudah menyerah di tengah jalan.
- Tetap Menghargai Orang Lain: Dalam menyampaikan kebenaran, hindari kata-kata yang kasar, menyakiti hati, atau merendahkan orang lain. Tetaplah menghormati martabat manusia meskipun pemikiran atau tindakan mereka berbeda dengan apa yang kita anggap benar.
4. Manfaat Berani Membela Kebenaran
Sikap berani membela kebenaran membawa dampak yang sangat positif baik bagi individu maupun masyarakat luas, di antaranya:- Terciptanya Keharmonisan dan Keadilan: Ketika kebenaran ditegakkan, maka keadilan akan terwujud dan masyarakat akan merasa aman serta tenteram.
- Mendapatkan Perlindungan dan Pertolongan Allah: Orang yang berani membela kebenaran akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt. serta perlindungan-Nya.
- Menjadi Contoh yang Baik: Sikap berani membela kebenaran yang dilakukan seseorang dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama sehingga tercipta lingkungan yang positif.
- Terhindar dari Kehancuran Bersama: Jika kebenaran tidak lagi dibela dan dibiarkan kalah oleh kebatilan, maka kehancuran akan mengancam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
E. Penutup
Sebagai seorang pelajar dan generasi penerus bangsa, kita memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan lingkungan sekitar. Menghindari sifat temperamental (ghadhab), membiasakan diri untuk selalu mengontrol diri, serta berani membela kebenaran adalah tiga pilar akhlak mulia yang harus kita miliki.Ketiga hal tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Dengan meninggalkan akhlak tercela dan membiasakan akhlak terpuji, Insya Allah hidup kita akan menjadi lebih nyaman, damai, serta mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. di dunia maupun di akhirat.